Selasa, 31 Mei 2011

Berbagi buku lagi

Sudah lama juga tidak menulis berbagi bukunya anak-anak setiap pagi Selasa dan Rabu. Hari ini giliran Dian Kurnia Afandi kelas Ia siswa SMART dari Medan. Dian bercerita tentang seorang anak bernama Charlie yang hidup miskin bersama kakeknya. Charlie sangat ingin memakan coklat. Saat itu ada seorang pemilik perusahaan coklat yang ingin memberikan sebagian perusahaannya kepada siapapun yang mendapatkan tiket emas yang berada di dalam coklat buatan pabrik miliknya. Charlie tertarik dengan kesempatan itu tetapi dia harus bersabar karena dia tidak mempunyai uang.

Suatu saat dia mendapatkan uang. Charlie langsung membeli coklat. Di coklat tersebut Charlie menemukan tiket emas bersama 3 orang anak yang lain. Anak pertama seorang anak yang gemuk yang hanya hobi makan. Anak laki-laki ini anak pemilik sebuah perusahaan. Bapaknya memerintahkan seluruh pegawainya untuk membuka semua coklat yang dibeli sehingga menemukan tiket emasnya. Anak kedua seorang anak perempuan yang hobi mengunyah permen karet. Anak ketiga seorang anak laki-laki yang hobi bermain games.

Mereka dikumpulkan di sebuah pabrik coklat yang didalamnya terdapat berbagai jenis coklat. Keempat anak tersebut tidak diperbolehkan menyentuh apapun selama kunjungan itu. Anak laki-laki gemuk tidak bisa menahan diri saat melihat kolam coklat sehingga dia akhirnya menceburkan diri dan tidak muncul lagi setelahnya. Anak perempuanpun akhirnya tergoda untuk mencicipi coklat yang berbentuk permen karet. Bagaimana dengan Charlie dan anak kali-laki penyuka games?

Charlie meneruskan perjalanan mereka, sampai di bagian pabrik yang banyak sekali games yang menarik. Games tersebut membuat anak laki-laki itu lupa dengan kesepakatan awal mereka untuk tidak menyentuh apapun. Diapun asyik dengan permainannya dan tertarik kedalam gamesnya. Charlie tetap melanjutkan perjalanannya sampai dia bertemu dengan pemilik pabrik coklat yang memberikan sebagian perusahaannya kepada Charlie.

Hikmah dari ceita ini menurut Dian:
Tiket emas tersebut dapat diibaratkan kesempatan kita untuk bersekolah di SMART. Sekarang adalah bagaimana kita memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Sehingga kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan.


Dian (ketiga dari kiri) sedang memegang neraca pegas saat praktikum gaya berat bersama teman-temannya. Dedi dari Lampung, Yodie dari Padang dan Aldi dari Sorong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar